Esai Mahasiswa

MERDEKA, BELAJAR, DAN PERUBAHAN

Oleh: Atik Nihayatuzen (*)

Keberanian menjadi faktor penting dalam mengambil segala tantangan dan hambatan di dalam proses pencapain. Maka tidak asing kita sering mendengar kata bijak “orang besar berani mengambil resiko yang besar” dan orang yang hebat yang mau melakukan aktifitas atau pekerjaan tidak seperti orang biasanya. Dari kata-kata tersebut, tentunya apabila ingin mengambil satu perubahan yang besar maka perlu tindakan yang besar pula.

Untuk menciptakan perubahan (positif) perlu perencanaan, tekad dan usaha  yang maksimal. Tentunya kata perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya gerakan untuk melawan hal yang biasa menjadi yang luar biasa. Pengertian perubahan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Perubahan tidak bisa melulu soal hal yang gitu-gitu aja melainkan perlu adanya strategi dan tuuan yang jelas guna menjadi promotor adanya kerja atau gerak yang positif guna mencapai suatu tujuan.

Kebijakan merdeka belajar merupakan gebrakan yang besar guna menuju perubahan walaupun di dalamnya terdapat banyak pertentangan dikalangan masyarakat. Semua itu menjadi hal yang wajar dalam pengambilan kebijakan baru yang sebelumnya belum ada atau belum beradaptasi menjadi hal yang perlu dilakukan.

Disini kita bahas soal kebijakan merdeka belajar-kampus merdeka. Dalam pelaksanaan kebijakan merdeka belajar, program “hak belajar tiga semester di luar program studi” perlu kerjasama antara perguruan tinggi, fakultas, program studi, mahasiswa dan mitra yang akan membuat link atau jaringan yang luas antara pihak intern yaitu perguruan tinggi dan pihak ekstren  yaitu mitra. Dengan begitu, akan memudahkan mahasiswa dalam menambah pengalaman, pembelajaran langsung di tempat kerja (experiential learning). Selama magang mahasiswa akan mendapat hardskills (keterampilan, complex problem solving, analytical skills, dsb.), serta keterampilan dalam berkomunikasi (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2020).

Perubahan merdeka belajar bukan saja soal mitra yang ada di perusahaan, tetapi juga bisa diterapkan seperti pertukaran pelajar antara program studi pada perguruan tinggi yang sama ataupun yang berbeda yang mempunyai kekhasan atau wahana penunjang pembelajaran. Semua itu tentunya perlu mekanisme yang rinci, strategis dan fleksibel untuk diterapkan dalam sudut pandang yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, maukah kita melakukan perubahan itu? Dengan pemahaman positif negatif yang bisa ditimbang mana yang lebih berat sehingga, bukan melulu bicara soal negatif daripada kebijakan tersebut akan tetapi juga positifnya. Perubahan memerlukan gebrakan dan gerakan yang produktif dimana ilmu dapat diambil darimanapun baik dari bangku kuliah ataupun di luar kuliah.

(*) Mahasiswa MPI INSUD Angkatan 2016

KEBIJAKAN MERDEKA BELAJAR-KAMPUS MERDEKA DAN KEBERAGAMAN
Oleh: Yudha Wahyuni Suci Prihatin

 
MENJADI GENERASI MILENIAL UNTUK INDONESIA MAJU
Oleh: Erlina Seftiana Maftuchah

 
SUKSES BUKAN UNTUK PEMALAS
Oleh: Elita Lailatul Marzuqoh